Tiga Bulan Terakhir Jadi Waktu Krusial bagi Perusahaan Otomotif

Tiga Bulan Terakhir Jadi Waktu Krusial bagi Perusahaan OtomotifTiga Bulan Terakhir Jadi Waktu Krusial bagi Perusahaan Otomotif

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) wholesale sales (penjualan pabrik ke dealer) pasar otomotif pada Januari-September 2018 mencapai 856.439 unit. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode sama di tahun lalu yang tercatat 801.701 unit.

Tak hanya wholesale, retail sales (penjualan dealer ke konsumen) juga naik sepanjang 2018, yaitu tembus 851.430 unit. Sedangkan di Januari-September tahun lalu hanya 768.120 unit.

Meski pada sembilan bulan di 2018 mengalami kenaikan penjualan secara menyeluruh, ternyata di tiga bulan terakhir pasar otomotif dianggap cukup krusial.

Menurut Executive General Manager PT Toyota Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto selama Oktober, November dan Desember jadi bulan yang “berbahaya”.

“Kalau September cuma Toyota (penjualan turun) doang. Amanlah (pasar otomotif). Tapi bahayanya market turun, kalau market turun pendapatan negara juga turun,” jelas Soerjo kepada Liputan6.com, Selasa (16/10/2018).

Ia mengaku khawatir, jika market otomotif turun di akhir tahun, kemungkinan para dealer akan mengalami peningkatan stock barang.

Hal inipula yang dihindari para dealer, sebab jika terjadi hal tersebut, maka yang terjadi adalah adanya perang diskon.

“Kalau saya sih takutnya itu, kalau lihatnya Toyota yang turun, saya lihatnya karena kita masih bisa berjuang. Tapi kalau semuanya maket turun ini yang bahaya,” kata dia.

Faktor penurunan

Melemahnya penjualan otomotif diperkirakan adanya beberapa penyebab, seperti nilai tukar mata uang rupiah yang rendah terhadap kurs dolar mencapai Rp 15.300.

Exchange rate sudah Rp 15.300 bukan pengaruhnya terhadap harga produk saja, tapi juga pada minat beli orang, terutama customer yang fleet-kan banyak yang berpikir untuk menahan uang sekarang. Jadi kelihatannya akan ada impact ke market,” ujarnya.

Soerjo juga mengatakan, walaupun harga produk otomotif ditahan, jika entrance rate suku bunga naik, maka hal itu akan berimbas pada minat beli. Terutama minat beli segmen bawah.

“Ya, walaupun harganya tetep tapi entrance rate-nya dinaikin. It’s not time to buy. Jadi, yang high segmennya kena yang tadi dan bawahnya kena bunga,” ucapnya.

Kendati begitu, Soerjo sendiri memprediksi untuk penjualan otomotif hingga akhir 2018 sesuai prediksi Gaikindo yaitu mencapai 1,1 juta unit atau lebih.

SUMBER  : liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *